(Rabu, 29/04/2020)
Cuti! Cuti berarti vakansi, mengaso, libur, beristirahat. Covid-19 telah membuat bumi beristirahat, melepaskan penat sehabis sekian lama memanggul beban.
Pelajaran, pekerjaan, ibadah dilaksanakan dari rumah. Jalan menjadi lengang. Pasar, toko dan mall menjadi sepi. Polusi udara tidak sepekat biasanya. Sampah tidak menggunung. Udara lebih segar. Langit terlihat jernih. Bumi sejenak bisa bernafas sekaligus merenungi arti persahabatannya dengan manusia.
“Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.”” (Yoh 6:35-36)
Yesus adalah Roti Hidup. Ia turun dari surga. Ia merendahkan diri serendah-rendahnya menjadi manusia agar manusia hidup. Manusia yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan.
Tetapi manusia tidak percaya, tidak rendah hati, malah pongah sekalipun melihat-Nya, sehingga Yesus menegurnya.
Saat merebaknya Covid-19 banyak orang berpaling pada Tuhan, makin percaya dan khusyuk bertelut kepada-Nya. Pandemi corona telah menyadarkan manusia agar tidak pongah. Ternyata manusia tidak ada apa-apanya menghadapi virus yang sangat kecil. Orang semakin mengerti bahwa melalui ilmu dan teknologi manusia harus terus mencari solusi, namun disadari usaha itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan.
Pada saat bumi cuti atau beristirahat sejenak ini, sesungguhnya manusia diajak merefleksikan relasinya dengan Tuhan dan memperbaruinya.
Kita bersyukur pada Tuhan yang senantiasa memanggil kita untuk selalu ingat dan percaya kepada-Nya, Sang Khalik pemilik kehidupan.
(abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Paroki Pugeran Yogyakarta).