(Minggu, 19/04/2020)
Seorang anak tukang batu terharu melihat tangan ayahnya begitu kasar, bahkan pula bekas luka-luka karena terkena semen saat kerja keras memasang batu bata.
Di akhir pekan, ayahnya pulang membawa uang untuk keluarganya setelah hampir seminggu penuh, dari pagi sampai malam, bekerja di sebuah proyek bangunan.
Anak itu mengerti bahwa hanya karena perngorbanan ayahnya, ia bisa hidup dan sekolah. Tangan kasar dan bekas luka tangan ayahnya juga merupakan kesaksian bagi dirinya bahwa hidup ini penuh perjuangan dan orang tidak boleh menyerah.
“Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.” (Yoh 20:20).
Pada tangan dan lambung-Nya ada bekas luka. Itulah luka Tuhan, luka yang menyatakan pengorbanan Tuhan bagi keselamatan manusia. Luka ini menegaskan Allah kita adalah Allah Yang Maharahim. Luka ini menjadi tempat perlindungan dan tempat penampungan semua jiwa.
Melalui Santa Faustina, Yesus antara lain bersabda, ”Kerahiman-Ku sangatlah besar…. Setiap jiwa yang mengikatkan dirinya pada-Ku akan memandang kasih dan kerahiman-Ku untuk selama-lamanya….” (Cat. Harian St. Faustina # 699).
Semoga dalam Minggu Kerahiman Illahi ini, kita makin mengagumi kerahiman-Nya. Semoga kita selalu hidup penuh syukur kerena karya baik Allah yg selalu kita terima melalui orang tua atau orang-orang yang mencintai kita sampai terluka. Semoga kita makin mampu mencintai dengan sepenuh hati, bahkan hingga terluka.
(abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Paroki Pugeran).