(Jumat Pon, 22/5/2020) – Kis 18:9 – 18
Diam! Diam yang dimaksudkan adalah tidak berbuat atau berusaha apa-apa. Dalam pengertian ini, diam berarti malas.
Orang Jawa mengatakan, ”Wong keset iku dadi bantaling setan.” Pemalas menjadi tempat kediaman setan. Orang malas biasanya mudah mengeluh, apatis.
Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” (Kis 18:9-10).
Menghadapi jemaat Korintus, serasa Paulus kehilangan asa. Ia takut, ragu-ragu dan ingin diam tidak berbuat apa-apa, atau malahan segera meninggalkan Korintus. Di Korintus terdapat banyak kejahatan, antara lain penyembahan berhala, penyelewengan, perbuatan tidak senonoh. Bahkan, beberapa orang Korintus memusuhi Paulus.
Tuhan menguatkan Paulus. Akhirnya Paulus bangkit dan melanjutkan pewartaannya. Keadaan Korintus yang tidak bersahabat tidak memadamkan perjuangan mewartakan kabar baik.
Melalui jerih lelahnya, beberapa tahun kemudian Tuhan menjadikan Jemaat Korintus sebagai jemaat yang kuat dan dewasa dalam mengimani Kristus.
Allah tidak pernah diam. Allah proaktif. Allah terus berinisiatif menyapa manusia. Allah selalu mendahului mencintai manusia.
Jalan hidup apa pun membutuhkan pribadi-pribadi yang proaktif, mau berinisiatif.
Memiliki inisitif yang tinggi, berpikir sebelum bertindak, berpartisipasi secara aktif, berfokus pada solusi bukan masalah merupakan kekebalan untuk mengusahakan kesejahteraan rohani maupun kelimpahan rezeki.
Keluarga, masa depan anak-anak, pekerjaan entah usaha sendiri maupun sebagai pegawai, gereja, masyarakat, membutuhkan orang-orang yang proaktif, berinisiatif, dan tidak diam. Allah sendiri selalu mendahului kita berinisiatif.
(Abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Pugeran Yogyakarta)