(Sabtu, 2/5/2020) – Yoh 6:60-69. Pw. S. Athanasius
Terguncang! Bergoyang cepat dan keras, berubah dengan cepat, gelisah, khawatir, tidak tenang, tidak aman. Pandemi Covid-19 telah mengguncangkan manusia.
Guncangan Covid-19 telah memaksa manusia melakukan salto pembaruan pola hidup bersih dan sehat. Gagasan seorang rama ‘Sehat tanpa Obat’ yang sudah lama beredar bisa menjadi acuan.
Gagasan Nirwono Joga juga sangat menarik. Ia menyebutkan bahwa salah satu upaya meredam penyebaran virus corona yaitu menjaga kebersihan dan kesehatan, dan itu dimulai dari rumah dan keluarga yang memiliki peran sentral untuk membangun budaya hidup bersih dan sehat.
Ia juga menegaskan cuci tangan, mencuci buah-buah dan sayuran, membersihkan diri sebelum beristirahat, rumah mempunyai banyak bukaan pintu, jendela dan lubang ventilasi untuk mengalirkan udara dan cahaya matahari, kehadiran taman atau pot tanaman di lingkungan rumah hingga menyegarkan dan menyehatkan penghuninya merupakan cara-cara sederhana menanamkan pola hidup bersih dan sehat. Kompas (29/4).
“Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?””(Yoh 6: 60-61)
Murid-murid Yesus terguncang karena kecenderungan telinga dan hati manusia menolak sabda Tuhan dengan dalih sabda itu keras dan tidak ada yang sanggup mendengarkannya.
Membangun budaya bersih dan sehat rasanya juga merupakan petunjuk Tuhan, yang harus diyakini dan dipraktekkan. Petunjuk ini bisa mengguncangkan karena pelaksanaanya tidak mudah. Contohnya orang lebih suka membuang sampah dari pada menaruh sampah.
Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si, menegaskan bahwa untuk mengembalikan bumi sebagai rumah bersama yang semula cantik membutuhkan ‘revolusi budaya’ di seluruh dunia. Perkataan ini mengguncangkan karena butuh pengorbanan. Pada bulan Mei 2020, bulan Maria, diadakan pula Doa Rosario Laudato Si dengan sistem daring.
Semoga kita tidak pernah lelah menjaga lingkungan, bumi kita sebagai rumah bersama dengan membangun budaya bersih dan sehat. Ini mengguncangkan.
(abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Paroki Pugeran Yogyakarta).