RENUNGAN HARIAN | Biar Tuhan Saja

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

(Rabu Wage, 17/6/2020) – Mat 6:1- 6, 16 -18

Tenggelam! Waktu kecil, saya pernah tenggelam di sungai karena tidak bisa berenang. Tuhan masih menghendaki hidup, saya mendapat batu pijakan sehingga bisa menepi. Ternyata sungai itu dalam.

Jasa, amal kasih, pemberian sejati rasanya seperti sungai, semakin dalam sungai itu, semakin tidak banyak bicara untuk menarik perhatian. Bagai orang telah berbuat jasa, ia tidak membutuhkan balasan jasa atau pujian dari orang lain.

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:3-4)

Kewajiban beragama orang Yahudi adalah sedekah, berdoa dan berpuasa. Salah satunya, Yesus mengajarkan supaya memberi sedekah secara tersembunyi.

Sedekah sebagai salah satu dimensi sosial iman mestinya lahir atas dasar kasih dan melulu mau menolong, bukan untuk pamer diri supaya diperhatikan dan diperbincangkan orang. Orang bersedekah dengan tujuan pamer, ia telah mendapat upahnya di dunia. Allah tidak perlu memberi upah.

Tapi yang tersembunyi akan dilihat Allah. Saat ini upah dari Allah itu tidak jarang berupa kelimpahan kesejahteraan, tidak berkekurangan, perlindungan dan kehormatan. Dan lebih dari itu, Allah menjanjikan amal kasih ini akan mendapat balasan berupa kekayaan kekal.

Menghayati iman agar disanjung orang lain, bisa marak di zaman ini. Motif itu bisa berujud antara lain merasa berjasa dan paling berhasil dalam melaksanakan tugas gereja, merasa yang nomor satu, bersaing untuk menjadi yang paling hebat. Allah melihat yang tersembunyi.

(Abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Pugeran Yogyakarta)

TERBARU