RENUNGAN HARIAN | Garam Kurang Asinnya

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on email

(Selasa Legi, 9/6/2020) – Mat 5:13 – 16

Kurang asinnya! Dalam sebuah rekoleksi para imam, seorang pembicara mengatakan, ”Gereja sekarang ini bagai garam kurang asinnya.”

Bagai garam kurang asinnya bukan berarti tidak tahu sopan santun, tetapi Gereja dirasakan seperti menara gading yang tinggi, indah dan nyaman, sehingga tidak terampil melihat realitas kehidupan masyarakat.

Rajin melakukan olah kesalehan atau berliturgi ria, namun Gereja kurang peka atas rintihan masyarakat. Melihat kecemasan masyarakat, ia tidak berhenti untuk berempati malahan terus berjalan membawa buku doa dan nyanyian untuk berliturgi.

Orang muda gereja lebih menghabiskan waktu dengan HP, nongkrong di cafe, berduniakan diskotik, namun jarang duduk berkomunikasi dengan masyarakat atau berkecimpung dengan masyarakat.

Tentu semua itu merupakan pendapat yang bersifat membangun.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat 5:13).

Garam berguna bukan bagi dirinya, melainkan bermakna bagi yang ada di luar dirinya. Berkat sabda dan karya Yesus, orang-orang Katolik mempunyai nilai tinggi dan bisa sungguh berguna bagi siapa pun di dunia ini.

Orang Katolik dipanggil menjadi garam yang memberi rasa lezat bagi orang lain. Kalau tidak, berarti orang Katolik sudah kehilangan rasa Sang Guru yang telah menderita dan wafat bagi manusia.

Kita bersyukur kepada Kristus yang selalu hadir menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk menjadi garam.

Terus hidup sebagai anak Allah dan menjadi saudara bagi siapa pun, merupakan imun untuk menjadi garam yang tidak lagi kurang asinnya. (Abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Pugeran Yogyakarta)

TERBARU