Tidak mudik! Mudik, pulang ke kampung halaman, selalu merupakan pengalaman yang indah dan membahagikan. Selain, menikmati alam yang indah, menghayati seninya bertindak cekatan di perjalanan, orang bisa bertemu dengan sanak saudara, melepas rindu, berbagi kisah kehidupan, dan saling meneguhkan.
Tapi dalam waktu dekat ini rasanya tidak ada mudik, bepergian antar wilayah tidak diperbolehkan, bahkan kemungkinan larangan mudik bisa dilaksanakan sampai Desember, Tribun Jogja (26/4). Tidak mudik menjadi usaha mencegah penyebaran virus corona, selain cara tidak sama antara lain cuci tangan, bekerja dari rumah, menjaga jarak, menghindari kerubungan orang, beribadah dari rumah, memakai masker.
Keuskupan Agung Semarang sendiri, melalui Vikep, via media sosial, menginformasikan bahwa peniadaan kegiatan liturgi dan non liturgi diperpanjang sampai dengan Minggu (31/5). Umat beribadah di rumah, berdoa sendiri, mengikuti misa via live-streaming atau televisi.
“Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.” (Luka 24:35)
Dua orang murid, salah satunya bernama Kleopas, mempunyai kenangan pahit akan Yesus. Mereka #tidakdirumahaja. Mereka pergi dari rumah, meninggalkan Yerusalem, menempuh jarak 11,26 km, “mudik” ke Emaus. Muka mereka muram. Saking muramnya, mereka tidak mengenali Tuhan yang mendekati, menyertai perjalanan, dan bahkan berkenan singgah di rumahnya. Setelah berjumpa dengan Tuhan, mereka putar balik, balik kanan, kembali ke Yerusalem.
Bagaimana di saat ini, di tengah deraan pandemi corona, kita bisa mengenali Tuhan? Banyak cara tentunya. Salah satunya adalah bertindak bijaksana. Rasanya bertindak bijaksana antara lain bekerja-belajar dari rumah, menjaga jarak, tidak banyak bepergian, cuci tangan, menjaga imun tubuh, memakai masker, jujur pada petugas medis saat diperiksa, tidak mudik merupakan salah satu jalan kita mengenali Tuhan. Bisa jadi dengan berbagai cara tersebut, Tuhan ingin berbicara, mendekati, menyertai kita dan tinggal di hati dan rumah kita.
(abakaeb, Rm. Paulus Supriya, Pr. – Paroki Pugeran Yogyakarta)